Penerapan “Gestalt Principles” pada Rancangan Design untuk meningkatkan Usability

red chairs in a stadium

Ketika membuat sebuah produk, pastinya kita ingin membuat tampilan atau User interface yang dapat dinavigasikan dengan mudah oleh penggunanya. Kemudahan dalam navigasi menjadi salah satu syarat untuk mencapai sebuah “Usability” yang baik, yaitu kemudahan dari sisi user dalam menggunakan sebuah produk secara efektif dan efisien.

Ada cara menarik untuk dapat membuat tampilan pada produk agar mudah dinavigasikan oleh pengguna, yakni dengan menerapkan Gestalt Principles pada produk yang kita miliki. Gestalt Principles adalah seperangkat teori yang muncul dari ilmu psikologi pada tahun 1920-an. Ini menjelaskan bagaimana manusia biasanya melihat objek dengan mengelompokkan elemen yang serupa, mengenali pola untuk menyederhanakan sebuah visual yang kompleks.

Binatang apa yang kamu dapat lihat pada gambar ini?

Secara kasat mata, kebanyakan dari kita akan melihat gambar diatas seperti seekor Panda. Ini karena otak kita mencerna dengan menghubungkan setiap potongan pada gambar yang ada, lalu membentuknya menjadi sesuatu yang masuk akal untuk kita; meskipun itu tidak lebih dari serangkaian potongan-potongan yang acak.

Menerapkan Gestalt Principles dalam sebuah produk seperti memberikan sebuah “trik” perspektif visual yang membuat pengguna paham bagaimana sebuah tampilan pada produk bekerja serta memberikan kejelasan mengenai maksud dan tujuan dari tampilan tersebut, sehingga mereka bisa menavigasikan tanpa rasa ragu dan bingung.

Don’t make me think.

Steve Krug

Dalam artikel ini akan dibahas beberapa contoh penerapan Gestalt Principles yang mempengaruhi perspektif pengguna pada umumnya. Dengan beberapa penjelasan ini, harapannya kamu dapat menerapkan Gestalt Principles pada desain tampilan produk kamu nantinya.

Ok langsung saja ke principle yang pertama yaitu

1. Proximity Principle

“Proximity” atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan “Kedekatan”, dinyatakan bahwa objek-objek yang jaraknya berdekatan itu lebih terkait dalam suatu grup objek dibandingkan dengan objek-objek yang berjarak jauh satu sama lain.

Penerapannya pada gambar diatas menggunakan struktur dan hierarki visual, yakni dengan cara memberikan jarak dari setiap grup objek maka akan membuat kejelasan dari grup objek tersebut. Ini membuat user tidak terbebani ketika melihat dan mengenali sebuah grup objek, dengan cara melakukan pengelompokan secara cepat.

2. Similarity Principle

“Similarity” atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan “Kesamaan” menjelaskan bahwa ketika ada suatu objek tampak mirip satu sama lain, maka kita akan cenderung untuk mengelompokkan mereka dalam satu kesatuan dan menganggap bahwa objek-objek tersebut akan memiliki fungsi dan interaksi yang sama.

Berbagai elemen desain seperti warna, bentuk, dan gaya desain dapat digunakan untuk membuat pengelompokan antara satu dengan lainnya. Pada akhirnya, hal ini memberikan kejelasan bahwa ada kesamaan fungsi atau interaksi dari beberapa komponen yang dimaksud.

Penerapannya pada gambar diatas menjelaskan bahwa ada perbedaan pada elemen teks yang mempunyai fungsi lebih, yaitu sebagai tombol agar pengguna dapat berinteraksi langsung dengan objek tersebut.

3. Common Region Principle

“Common Region” atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan “Wilayah Umum” ini prinsip nya sangat mirip dengan prinsip “Proximity” yaitu dinyatakan bahwa ketika suatu objek satu dengan yang lain berada dalam area wilayah yang sama, maka dapat diasumsikan bahwa objek-objek tersebut tergolong dalam satu kelompok yang sama.

Penerapannya pada gambar diatas dengan cara memberikan sebuah batasan dari grup objek menggunakan “card style”, agar dapat memberikan sebuah kategori tersendiri pada grup objek tersebut.

4. Focal Point Principle

“Focal Point” atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan “Titik Fokus” adalah sebuah prinsip yang menyatakan bahwa objek yang menonjol secara visual akan mendapat perhatian lebih secara kasat mata, sehingga pengguna dapat terfokus kepada objek tersebut.

Dari sisi produk, kita juga harus bisa membuat gambaran yang jelas, apa tujuan utama yang kita ingin pengguna lakukan ketika dihadapkan dengan pilihan pada produk kita.

Penerapannya pada gambar diatas memperlihatkan bahwa pada tombol yang mempunyai warna lebih mencolok akan membuat pengguna lebih memilih berinteraksi dengan tombol tersebut. Dengan cara ini pula kita dapat membuat hierarki tersendiri, seperti mana objek yang utama dan mana objek yang sekunder.

5. Closure Principle

“Closure” atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan “Pengakhiran” menyatakan bahwa ketika kita melihat ada susunan elemen dalam objek visual yang tidak lengkap maka kita akan secara otomatis mencari pola yang mendekati terlebih dahulu dari kekosongan elemen objek secara keseluruhannya.

Untuk prinsip ini, contohnya bisa dilihat pada gambar yang terlihat seperti panda di awal artikel. Meskipun objek-nya tidak lengkap, kita bisa mengenalinya dengan cepat.


Itulah prinsip Gestalt, dari ilmu psikologi, yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan maksud dan sistem design yang kita rancang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *